Tarakan — Situasi kesehatan di Jalur Gaza tetap berada dalam kondisi yang sangat buruk meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Palestina. Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan bahwa penderitaan warga sipil masih berlangsung akibat terbatasnya akses terhadap obat-obatan, peralatan medis, serta hambatan evakuasi pasien ke luar negeri.
Juru bicara Kementerian Kesehatan, Khalil al-Daqran, menyatakan bahwa Israel gagal mematuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober. “Situasi kesehatan di Jalur Gaza masih berada dalam kondisi bencana akibat kegagalan Israel mematuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata,” ujarnya dalam konferensi pers yang dikutip Anadolu.
Menurut al-Daqran, hingga kini Israel telah mencegah 16.500 pasien dan korban luka meninggalkan Gaza untuk menjalani perawatan di luar negeri, meski seluruh berkas administrasi mereka telah dinyatakan lengkap. Kondisi ini memperburuk krisis kesehatan yang sudah berlangsung selama dua tahun terakhir akibat perang.
Selain itu, sejumlah titik pelayanan medis darurat yang didirikan untuk membantu warga sipil terpaksa berhenti beroperasi. Hujan deras dan angin kencang yang melanda Gaza sejak Jumat merobohkan tenda-tenda layanan, sehingga akses masyarakat terhadap pertolongan pertama semakin terbatas.
Dalam pernyataannya, al-Daqran menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi. Ia menekankan perlunya fasilitasi masuknya tenda, rumah portabel, dan material konstruksi ke Gaza agar dapat meringankan penderitaan warga yang kini hidup di pengungsian.
“Tanpa dukungan nyata dari dunia internasional, penderitaan warga Gaza akan terus berlanjut. Kami membutuhkan langkah mendesak untuk memastikan akses terhadap layanan kesehatan dan tempat tinggal yang layak,” tambahnya.
Sejak Jumat, wilayah Gaza dilanda cuaca dingin, hujan deras, dan angin badai. Ribuan tenda pengungsian terendam banjir, memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal sementara. Prakiraan cuaca menyebutkan badai diperkirakan mereda pada Minggu malam, namun dampak kerusakan yang ditimbulkan masih terasa luas.
Krisis kemanusiaan di Gaza merupakan dampak langsung dari perang dua tahun yang berlangsung sejak Oktober 2023. Data Kementerian Kesehatan mencatat, konflik tersebut telah menewaskan hampir 69.200 orang dan melukai lebih dari 170.700 lainnya. Saat ini, sekitar 2,4 juta warga Palestina masih menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat kritis.
Meski serangan Israel berhenti seiring diberlakukannya gencatan senjata, penderitaan warga Gaza belum berakhir. Hambatan terhadap akses medis, kondisi pengungsian yang memprihatinkan, serta cuaca ekstrem terus memperburuk situasi di wilayah yang telah lama terisolasi tersebut.

.jpg)



5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!