Kurikulum PAUD 2025 telah resmi diluncurkan. Hal ini memberi semangat baru yang menyegarkan untuk anak, agar mampu belajar dengan cara yang menyenangkan, sesuai minat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemerintah ingin menjadikan pendidikan anak usia dini sebagai ruang tumbuh yang manusiawi, bukan ruang ujian skala kecil yang penuh tuntutan. Namun, kenyataan di dalam kelas masih jauh dari harapan.
Banyak guru yang masih bingung menerjemahkan kurikulum baru. Hal ini semakin menantang karena pendekatan kurikulum pun turut diperbarui. Bagi guru, menuangkan isi kurikulum ke dalam kegiatan nyata menjadi tantangan tersendiri. Orang tua pun masih banyak yang menekan sekolah dan berharap anaknya cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Akibatnya, ruang kelas PAUD masih dipenuhi lembar kerja dan hafalan. Padahal, anak usia dini seharusnya belajar lewat bermain, eksplorasi, dan rasa ingin tahu. Mereka butuh pengalaman, bukan tekanan.
Kurikulum PAUD 2025 mengajak kita kembali ke esensi yang menyatakan bahwa “anak adalah manusia utuh yang tumbuh lewat pengalaman, bukan sekadar angka capaian”. Anak belajar saat mereka merasa aman, dicintai, dan dihargai. Mereka butuh ruang untuk bertanya, mencoba, gagal, dan tertawa. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan sosok pendamping yang membantu anak mengenal dunia dengan cara yang bermakna.
Namun, tantangan di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak guru belum mendapat pelatihan yang bersifat aplikatif. Mereka tahu kurikulum berubah, tapi belum tahu bagaimana mengubah praktik yang sudah terbiasa mereka lakukan. Di sisi lain, tekanan administratif dan ekspektasi akademik dari orang tua membuat guru ragu untuk berinovasi. Dokumentasi praktik baik yang ada masih terbatas, sehingga sulit mencari inspirasi kegiatan yang kontekstual dan menyentuh hati anak.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Salah satu cara yang paling membumi dan bermakna adalah mendesain kegiatan bermain yang benar-benar hidup dan dekat dengan dunia anak. Bukan bermain yang dibuat-buat, tapi bermain yang tumbuh dari rasa ingin tahu anak, dari benda-benda di sekitar mereka, dari cerita yang mereka dengar di rumah, dan dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.
Misalnya, anak-anak bisa belajar berhitung sambil memilah biji jagung yang baru dipanen, mengenal warna lewat kain batik yang dipakai nenek, atau belajar kerja sama lewat permainan tradisional seperti engklek dan congklak. Mereka bisa melukis daun sambil merenungkan ciptaan Tuhan, atau bermain jual beli dengan alat dapur bekas sambil belajar komunikasi dan empati.
Kegiatan seperti ini bukan hanya membangun kompetensi dasar, tapi juga menumbuhkan karakter, rasa syukur, dan identitas budaya. Anak belajar bukan karena disuruh, tapi karena mereka merasa terhubung. Mereka merasa dihargai, didengar, dan dicintai.
Media pembelajaran tidak harus mahal. Daun, batu, sendok kayu, kain perca, dan suara alam bisa menjadi sumber belajar yang kaya makna. Guru hanya perlu membuka mata, membuka hati, dan percaya bahwa setiap momen bisa menjadi ruang belajar yang indah.
Evaluasi pun tak selalu harus berupa angka. Portofolio naratif, dokumentasi proses, dan percakapan reflektif dengan orang tua jauh lebih bermakna. Guru bisa menuliskan cerita kecil, misalnya: “Hari ini, Rian mencoba menyusun batu dari besar ke kecil. Ia sempat bingung, tapi akhirnya berhasil dan tersenyum bangga.” Cerita seperti ini lebih jujur, lebih manusiawi, dan lebih menggambarkan proses tumbuh anak.
Kurikulum PAUD bukan sekadar dokumen. Ia adalah janji: bahwa setiap anak berhak tumbuh dengan cinta, makna, dan kebahagiaan. Tapi janji itu hanya akan hidup jika kita berani mengubah cara pandang, cara mendampingi, dan cara mendengarkan anak.
Kurikulum PAUD 2025 adalah langkah maju. Tapi agar benar-benar berdampak, kita perlu mendampingi guru dengan pelatihan yang nyata, mengajak orang tua memahami filosofi tumbuh kembang, dan membangun praktik pembelajaran yang sesuai dengan semangat kurikulum. Pendidikan anak usia dini bukan soal cepat bisa, tapi tentang tumbuh dengan hati yang gembira.
Tulisan ini mengajak kita semua guru, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk kembali melihat anak sebagai manusia, bukan target. Karena sesungguhnya, anak tidak butuh dipercepat. Mereka hanya butuh ditemani, didengarkan, dan diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Penulis merupakan seorang Guru PAUD dan Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang.
Email : nisa.nurul5520@gmail.com

5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!