Selumit dan Juwata Permai Masuk Zona Intervensi Bebas Narkoba, Program Harus Berjalan Berkelanjutan

Selumit dan Juwata Permai Masuk Zona Intervensi Bebas Narkoba, Program Harus Berjalan BerkelanjutanFoto :

TARAKAN — Upaya mewujudkan Selumit Pantai dan Juwata Permai sebagai kawasan bebas narkoba terus mendapat pengawalan ketat dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara. Kepala BNNP Kaltara Brigjen Pol Tatar Nugroho menyebutkan, sejak intervensi intensif dilakukan sejak akhir 2024, aktivitas peredaran narkotika di Selumit Pantai mengalami penurunan drastis.

Menurut Brigjen Tatar, berbagai program yang diterapkan—termasuk penataan wilayah melalui Kampung Tematik Warna-warni—membawa dampak signifikan. Sebelum intervensi, wilayah tersebut sempat menjadi salah satu titik panas peredaran sabu, dengan estimasi peredaran mencapai 12 kilogram per bulan atau sekitar Rp19 miliar nilai ekonomi.

“Penelitian terbaru menunjukkan penurunan peredaran sampai 80–90 persen. Perubahan fisiknya juga terlihat, lubang-lubang transaksi yang dulunya aktif kini sudah tutup semuanya,” ungkap Tatar, Kamis (13/11/2025).

Namun demikian, penutupan titik transaksi tidak otomatis menghilangkan seluruh jaringan yang tersisa. BNNP melihat adanya adaptasi dari para pelaku. Mereka kini memilih berpindah-pindah lokasi dan tidak lagi menggunakan titik tetap.

“Sisa sekitar 10 persen ini tidak menetap. Mereka bergerak. Kalau ada pembeli, mereka yang mendatangi atau membuat janji di titik tertentu. Modus seperti ini yang sedang kami dalami,” jelasnya.

Mobilitas jaringan narkoba ini membuat pola pengawasan harus semakin responsif. Tatar menuturkan, pasca penggerebekan besar di Selumit Pantai, jaringan sempat bergeser ke Karang Rejo sebelum kemudian pindah lagi ke Juwata.

“Kami sudah lakukan tindakan di Karang Rejo, lalu mereka bergeser lagi. Begitu polanya. Mereka bergerak terus, tapi kami juga tidak berhenti melakukan pengejaran,” tegasnya.

BNNP Kaltara juga mulai menelusuri struktur jaringan di balik peredaran tersebut. Meskipun jaringan didesain dengan sistem sel terputus, pihaknya yakin lambat laun dalang utamanya dapat teridentifikasi.

“Kami memetakan siapa yang mendanai, siapa bandarnya. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Cepat atau lambat, jaringannya akan terbuka,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa program Kampung Bebas Narkoba bukan sekadar penataan visual atau penindakan pada titik transaksi. Pendekatan sosial, patroli lapangan, serta pemetaan jaringan akan diteruskan secara berkelanjutan.

“Program ini tidak boleh berhenti. Kami akan teruskan sampai benar-benar bersih, termasuk di Juwata Permai. Komitmen kami jelas: peredaran narkoba akan terus kami kejar sampai tuntas,” pungkas Tatar.