NUNUKAN — Program Kampung Hortikultura yang menjadi bagian dari 17 Arah Baru Menuju Perubahan Bupati Irwan Sabri dan Wakil Bupati Hermanus kini memasuki tahap perluasan kawasan. Pemerintah Kabupaten Nunukan menegaskan, pengembangan hortikultura bukan hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga pangan dan menekan inflasi, khususnya dari komoditas cabai.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan melalui Kepala Bidang Pangan, Sambio, menjelaskan bahwa tahun ini pemerintah membuka delapan titik baru untuk pengembangan cabai dengan total luas delapan hektare. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi fluktuasi harga cabai yang sering menjadi pemicu inflasi daerah.
“Cabai ini komoditas yang paling sensitif. Delapan titik ini kita siapkan khusus untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan harga stabil di pasar,” kata Sambio.
Menurutnya, cabai merupakan indikator kondisi pasokan pangan daerah yang paling cepat berubah, sehingga pendampingan harus dilakukan lebih intensif dan terukur.
DKPP telah menuntaskan seluruh penyaluran sarana produksi seperti benih, pupuk, dan kebutuhan dasar lainnya kepada kelompok tani. Saat ini, penyuluh pertanian lapangan (PPL) mulai aktif mendampingi petani dalam proses tanam hingga perawatan.
“Secara fisik dan keuangannya sudah selesai. Sekarang tinggal petani mengelola dan PPL melakukan pendampingan. Kita targetkan panen pertama awal tahun depan, tepat saat permintaan cabai meningkat,” jelasnya.
Sambio menyebut, periode tanam yang tepat menjadi kunci stabilisasi harga, terutama ketika pasokan dari luar daerah sedang turun. Pendampingan teknis juga penting mengingat cabai sangat rentan terhadap cuaca ekstrem, kelembapan tinggi, serta serangan hama.
Meski cabai menjadi fokus utama pengendalian inflasi, Program Kampung Hortikultura juga mengembangkan sejumlah komoditas lain. Di wilayah Sebatik, budidaya pisang menunjukkan perkembangan signifikan, disusul durian yang mulai banyak dibudidayakan walaupun memiliki waktu berbuah lebih panjang.
“Untuk pisang di Sebatik Tengah hasilnya bagus sekali. Durian memang belum terlihat karena masa berbuahnya dua hingga tiga tahun,” ujarnya.
Sementara itu, wilayah Nunukan dan Tulin Onsoi ditetapkan sebagai sentra pengembangan semangka dan melon. Dua komoditas ini memiliki potensi pasar lokal yang kuat, tetapi membutuhkan modal dan pendampingan yang lebih intens agar produktivitasnya stabil.
Sambio tidak menampik bahwa pengembangan hortikultura menghadapi tantangan klasik, salah satunya adalah minimnya pengetahuan budidaya dan manajemen usaha tani. Pola tanam yang tidak teratur sering menyebabkan ketidakseimbangan pasokan.
“Kadang petani tanam bersamaan, hasil melimpah dan harga jatuh. Kadang tidak ada yang tanam, pasar kosong. Tanaman semusim seperti ini sangat ditentukan manajemen,” tegasnya.
Biaya budidaya juga tidak kecil. Untuk semangka, misalnya, biaya produksi per hektare dapat mencapai Rp40 juta. Tanpa pendampingan berkelanjutan, risiko gagal panen bisa memicu kerugian besar bagi petani.
Meski suplai beberapa komoditas mulai stabil, cabai tetap menjadi komoditas yang paling sulit dikendalikan. Selain faktor cuaca dan hama, masuknya cabai dari luar daerah kerap membuat harga lokal tidak menentu.
“Kalau cabai dari luar masuk dengan harga murah, kita deflasi. Begitu harganya balik normal, masyarakat merasa mahal, padahal itu harga standar cabai lokal,” katanya.
Kondisi tersebut membuat petani kesulitan menentukan pola tanam yang ideal karena pasar sering bergerak di luar kendali produksi lokal.
Melihat kompleksitas itu, DKPP menegaskan bahwa pengembangan Kampung Hortikultura merupakan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan. Pemerintah akan terus meningkatkan pendampingan teknis, penguatan kelompok tani, serta penataan kawasan.
“Kita ingin pasar tidak pernah kosong dan petani tetap untung. Itu inti dari program Kampung Hortikultura,” tutur Sambio.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah dan terus mendorong efisiensi biaya produksi serta penyempurnaan tata tanam.
“Program ini bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga di Nunukan,” tutupnya.

5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!