TARAKAN – Udara di ruang Vicom Sanika Satyawada di BPK Kaltara hari itu terasa berbeda. Di bawah langit Kalimantan Utara yang bersentuhan langsung dengan garis batas negara, suara yang terdengar bukan sekadar riuh rendah pertemuan formal. Ia adalah sebuah simfoni harapan yang dimainkan oleh jari-jemari yang seringkali terlupakan di pinggiran peta.
Dengan tajuk besar "Bersinar dari Perbatasan Utara," Puncak Inklusi Fest Kepemudaan Kalimantan Utara (Kaltara) 2025 resmi dikumandangkan. Perhelatan ini menjadi antitesis bagi mereka yang meragukan potensi daerah. Ia membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer dari hiruk-pikuk ibu kota Jakarta bukanlah penghalang bagi inovasi untuk tumbuh, inklusivitas untuk berakar, dan kedaulatan bangsa untuk ditegakkan melalui karakter pemudanya.
Acara ini lahir dari rahim pikiran kreatif AYS Indonesia (Action of Youth for Sustainability). Sebagai platform yang baru saja masuk dalam jajaran 25 komunitas pemuda terbaik versi Kemenpora RI, AYS Indonesia memikul beban sekaligus kebanggaan untuk menjadi katalisator perubahan di beranda depan nusantara.
Di tengah sorot lampu panggung, narasi utama yang diusung adalah semangat SDGs poin ke-10: Reduce Inequalities atau mengurangi kesenjangan. Namun, di Inklusi Fest, narasi ini tidak berhenti di atas kertas kebijakan. Ia menjelma menjadi gerakan kemanusiaan untuk menghapus stigma yang melekat pada pemuda disabilitas.
Mewakili Gubernur Kaltara, Staf Ahli Bidang Aparatur dan Pelayanan Publik menyampaikan pesan yang menggugah nurani. Di provinsi ini, terdapat lebih dari 371 penyandang disabilitas usia produktif. Selama ini, mereka sering terperangkap dalam label "tidak mampu". Inklusi Fest hadir untuk mendekonstruksi pemikiran usang tersebut.
Puncak emosi festival ini terekam dalam ajang AYS Got Talent. Di sana, panggung bukan lagi milik mereka yang sempurna secara fisik, melainkan milik mereka yang memiliki jiwa yang merdeka. Muhammad Abrar Putra Siregar, sang konseptor di balik AYS Indonesia, memandang kompetisi ini sebagai ruang katarsis. Bakat menyanyi yang menggetarkan sukma, pembacaan puisi yang menyentuh kalbu, hingga gerak tari yang memukau, semuanya menjadi bukti bahwa disabilitas adalah variasi manusia, bukan sebuah hambatan.
"Sudah saatnya pemuda disabilitas tidak lagi dipandang dari sudut pandang ketergantungan," ujar Abrar dengan nada mantap dalam sebuah sesi wawancara eksklusif. Baginya, AYS Got Talent adalah bahan bakar bagi mereka untuk berani tampil beda dan memeluk rasa percaya diri yang selama ini mungkin terkubur oleh keraguan publik.
Bergerak ke sisi lain dari kedaulatan, festival ini menggandeng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Utara. Di wilayah perbatasan, mata uang memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar alat transaksi ekonomi. Rupiah di tapal batas adalah simbol harga diri bangsa, perekat persatuan, dan identitas yang membedakan "kita" dengan "mereka" di seberang garis batas.
Menjaga martabat Rupiah di Kaltara adalah bentuk menjaga kehormatan negara. BI Kaltara membawa misi besar: menanamkan mentalitas "Bisa Karena Biasa" kepada ratusan pemuda yang hadir. Mereka diajak untuk membuang jauh-jauh mentalitas rapuh yang merasa kecil di hadapan bangsa lain dan menggantinya dengan kepercayaan diri untuk mengelola potensi daerah.
Salah satu yang ditekankan adalah potensi ekonomi hijau yang tengah mekar di bumi Kaltara. Dengan karakter yang kuat dan kecintaan pada mata uang sendiri, pemuda Kaltara diharapkan menjadi garda terdepan dalam menggerakkan roda ekonomi yang berkelanjutan, memastikan bahwa kekayaan alam di perbatasan dikelola oleh tangan-tangan anak bangsa yang mandiri.
Namun, Inklusi Fest tidak hanya berisi puja-puji. Keberanian jurnalisme dan keterbukaan informasi membawa sebuah catatan kritis yang memilukan dari perwakilan BPK RI Kalimantan Utara. Di balik gemerlap acara, terungkap fakta yang mengusik rasa nyaman kita sebagai bangsa.
Hanya berjarak satu kilometer dari kemajuan negara tetangga, Malaysia, terdapat sekitar 40 anak Indonesia yang tidak dapat mengakses pendidikan. Alasannya sangat teknis namun berdampak fatal: kendala administratif ketiadaan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Tanpa NIK, mereka adalah jiwa-jiwa yang tidak tercatat oleh negara, terasing di tanah kelahiran sendiri, dan kehilangan hak untuk menempuh ujian nasional.
Tak hanya pendidikan, akses kesehatan bagi ibu hamil di pelosok perbatasan pun masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya tuntas. Catatan ini menjadi alarm keras bagi seluruh peserta festival. Inklusi sosial tidak boleh hanya menjadi festival panggung, ia harus menyentuh akar permasalahan akses layanan dasar.
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, sebuah pesan penting mengenai era disrupsi disampaikan. Di era digital, informasi adalah kunci, namun kebijaksanaan adalah kendalinya. Media sosial seperti Instagram dan LinkedIn diingatkan untuk tidak hanya menjadi jendela untuk mengintip kemewahan hidup orang lain, melainkan harus menjadi "senjata" untuk menjemput peluang (opportunity).
Visi AYS Indonesia kini meluas. Mereka tidak hanya berbicara tentang inklusi sosial, tetapi mulai merambah ke sektor perekonomian perbatasan. Rencana pembangunan infrastruktur sosial seperti Smart Hub atau Community Center bukan lagi sekadar impian. Ini adalah persiapan bagi pemuda Kaltara untuk menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Inklusi Fest 2025 diakhiri dengan sebuah janji yang tak terucap namun terasa di udara: Pemuda perbatasan bukan lagi sekadar cadangan masa depan. Mereka adalah kekuatan hari ini. Mereka adalah pemilik sah masa depan Indonesia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih bermartabat. Dari beranda utara ini, cahaya itu mulai berpendar, menembus kabut stigma, dan menerangi jalan menuju nusantara yang seutuhnya inklusif.






5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!