BERAU – Penguatan sistem kelistrikan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus menunjukkan perkembangan positif setelah jaringan interkoneksi dari Kalimantan Timur ke Kaltara resmi beroperasi penuh. PT PLN (Persero) memastikan keandalan pasokan listrik kini semakin stabil dan merata hingga wilayah pesisir.
Asman Jaringan Distribusi PLN UP3 Berau, Rhedi R Hidayat, mengungkapkan bahwa sebelum interkoneksi beroperasi, sejumlah wilayah di Kaltara masih bergantung pada sistem isolated, sehingga rawan mengalami defisit daya, terutama saat beban puncak atau ketika pembangkit mengalami gangguan.
“Beberapa wilayah seperti pesisir Berau, Tana Tidung, hingga sebagian Malinau sebelumnya masih isolated. Kondisi ini sering menimbulkan defisit listrik,” jelas Rhedi, Selasa (2/12/2025).
Namun, sejak interkoneksi resmi tersambung pada 7 November 2025, dampak positif langsung dirasakan masyarakat dan sektor kelistrikan.
“Alhamdulillah setelah interkoneksi aktif, PLTD Tanjung Batu dan Talisayan secara resmi kami off-kan. Saat ini wilayah pesisir sudah disuplai dari sistem besar, jadi tidak lagi mengalami defisit seperti tahun lalu,” ujar Rhedi.
Rhedi menjelaskan, aliran listrik menuju Kaltara kini ditopang oleh jaringan transmisi kuat yang masuk melalui koridor Talisayan–Tanjung Redeb dan terhubung hingga Malinau dan Tana Tidung. Sistem ini dinilai jauh lebih andal dibandingkan jaringan lama yang bergantung pada pembangkit setempat.
Tak hanya itu, PLN juga melakukan penguatan jaringan melalui Gardu Induk (GI) Tanjung Redeb dan GI Tanjung Selor, sehingga distribusi listrik pada tegangan 20 kV semakin optimal.
“Dengan sistem ini, bila terjadi gangguan, pemulihan bisa dilakukan lebih cepat tanpa menunggu proses start mesin pembangkit,” katanya.
PLN mencatat, dalam satu bulan terakhir tidak terdapat gangguan kelistrikan yang disebabkan oleh defisit daya. Cadangan listrik dinilai cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat.
Pertumbuhan beban listrik di Kaltara juga menunjukkan tren positif. Dari beban puncak 52 MW pada 2024, meningkat menjadi 67 MW pada 2025. Kenaikan ini disebut sebagai natural growth, seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi listrik masyarakat.
“Ini menunjukkan ekonomi Kaltara terus bertumbuh dan kebutuhan listrik juga meningkat,” ujar Rhedi.
Meski begitu, PLN mengakui masih terdapat sejumlah wilayah perbatasan yang belum tersambung interkoneksi. Daerah seperti Long Bawan dan beberapa titik di Krayan masih mengandalkan sistem isolated akibat kondisi geografis yang sulit dijangkau.
“Wilayah perbatasan masih menjadi pekerjaan rumah. Kami berharap perluasan jaringan ke sana bisa masuk dalam program 2025 agar pemerataan listrik di Kaltara benar-benar terwujud,” ucapnya.
Dengan sistem kelistrikan yang semakin andal, PLN optimistis sektor pariwisata, industri pengolahan, hingga ekonomi pesisir dan pedalaman di Kaltara akan terdorong signifikan.
“Listrik adalah fondasi utama pembangunan. Interkoneksi ini menjadi modal besar bagi pertumbuhan ekonomi Kaltara ke depan,” tutup Rhedi. (z)




.png)


5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!